Blog Pembelajaran TIK dan Bahasa Inggris,yang menunjang kegiatan pembelajaran melalui internet. Siswa dapat belajar mandiri mempelajari materi dan berlatih mengerjakan soal on line untuk mengukur pemahaman atas materi yang telah dipelajari.

Wednesday, April 18, 2012

Mendikbud beri Contoh Sundel Bolong dan Bambu Runcing


JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, guru harus mengembangkan lembar kerja siswa (LKS) yang menggali kearifan lokal, sehingga menumbuhkan kecintaan pada budaya di daerah masing-masing.


"LKS hendaknya menggali cerita kearifan lokal supaya menumbuhkan kecintaan pada budaya yang ada di daerah masing-masing," katanya di sela-sela sidak persiapan ujian nasional (UN) di Rayon Tangerang Selatan, Minggu.
Ia mengemukakan hal itu menanggapi buku LKS yang menuai kontroversi karena adanya cerita mengenai "istri simpanan" dalam buku pelajaran untuk siswa SD kelas dua. Kisah Bang Maman dari Kali Pasir itu menjadi bahan pelajaran "Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta".
Mendikbud mencontohkan salah satu cerita rakyat dari Jawa Timur, Sundel Bolong, yang mempunyai ciri jika berjalan kakinya tidak menyentuh tanah, berparas cantik, dan di punggungnya terdapat lubang yang mengeluarkan bau busuk.
"Arti yang tersembunyi dari cerita rakyat itu, kalau seseorang itu tidak punya prinsip maka harus berbohong dan bohong itu selalu menampilkan yang menarik, tapi baru setelah itu ketahuan busuknya," katanya.
Dia juga mencontohkan, jika dilihat sejarah pertempuran melawan penjajah, Bangsa Indonesia menggunakan senjata bambu runcing. Kalau diterjemahkan hanya bambu runcing itu berupa kekerasan.
"Kita lihat bagaimana bambu runcing itu suatu senjata yang sangat terbatas tapi melawan meriam, semangatnya itu yang harus dicontoh. Begitu juga dengan pedang, pahlawan kita selalu membawa pedang, jadi mohon tidak diterjemahkan dalam konteks hanya goloknya, tapi dalam konteks keberanian, heroik yang ditanamkan pada anak-anak," ujar dia.
Selain itu, katanya, bahasa menjadi kata kunci. "Jangan sampai anak kecil dijejali dengan bahasa-bahasa yang kasar. Dalam LKS untuk siswa SD, bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan tingkat penyerapan usia anak dan harus melihat dalam perspektif utuh," katanya.
Oleh karena itu, ia mengajak dinas-dinas pendidikan untuk mencoba menyaring buku-buku muatan lokal seperti apa yang dibeli. Demikian juga dengan kepala sekolah harus teliti. "Kami juga mengumpulkan bahan-bahan muatan lokal itu untuk dipelajari," katanya.

Reactions:

0 comments: